
Pengertian
Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, yang lazim disingkat MKCH Muhammadiyah, merupakan salah satu rumusan penting dalam pemikiran resmi dan ideologi Muhammadiyah.
MKCH menjelaskan pokok-pokok keyakinan Muhammadiyah tentang Islam, sumber ajaran Islam, kedudukan manusia, kehidupan dunia dan akhirat, serta cita-cita kehidupan yang ingin diwujudkan Muhammadiyah melalui gerakannya.
Dengan demikian, MKCH membantu warga Muhammadiyah memahami siapa Muhammadiyah, apa yang diyakininya, dari mana ajarannya bersumber, serta untuk apa Muhammadiyah bergerak.
Muhammadiyah menempatkan MKCH dalam rangkaian pemikiran resminya bersama sejumlah dokumen penting lainnya. Di antaranya terdapat Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, dan berbagai rumusan pemikiran resmi Persyarikatan lainnya. Portal resmi Muhammadiyah sendiri menempatkan MKCH dalam bagian Ideologi Muhammadiyah.
Sejarah Singkat MKCH
Muhammadiyah merumuskan MKCH pada 1969 dalam konteks pembaruan kembali atau retajdid gerakan Muhammadiyah.
Muktamar ke-37 Muhammadiyah di Yogyakarta pada 1968 menetapkan kebijakan retajdid yang mencakup bidang ideologi, perjuangan, dakwah, dan amal usaha. Dalam perkembangan berikutnya, Muhammadiyah menerbitkan Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah pada 1969 sebagai salah satu hasil pembaruan bidang ideologi.
Rumusan tersebut kemudian memperoleh perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah atas kuasa Tanwir 1970 di Yogyakarta serta penyesuaian dengan keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta.
Karena itu, ketika mempelajari MKCH, pembaca perlu merujuk kepada rumusan resmi Muhammadiyah, bukan sekadar kepada ringkasan atau interpretasi pihak luar.
Rumusan Pokok MKCH
Secara resmi, MKCH memuat lima pokok utama.
1. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Pokok pertama menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, berakidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah.
Pada saat yang sama, Muhammadiyah mencita-citakan dan mengusahakan terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridai Allah SWT.
Rumusan tersebut juga menghubungkan cita-cita Muhammadiyah dengan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Dengan demikian, MKCH tidak hanya menjelaskan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan. MKCH sekaligus menjelaskan arah perjuangan Muhammadiyah dalam membangun kehidupan manusia dan masyarakat.
2. Islam sebagai Agama Allah
Pokok kedua menjelaskan keyakinan Muhammadiyah bahwa Allah menyampaikan agama Islam kepada para rasul sebagai risalah bagi umat manusia.
Rumusan tersebut menyebut rangkaian nabi mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seterusnya hingga Nabi Muhammad SAW sebagai nabi penutup.
Dalam kerangka tersebut, Islam menjadi hidayah dan rahmat Allah bagi umat manusia sepanjang masa. MKCH juga menghubungkan Islam dengan kesejahteraan hidup manusia, baik dalam dimensi materiil dan spiritual maupun duniawi dan ukhrawi.
Dengan demikian, Muhammadiyah memandang Islam sebagai risalah yang memberikan petunjuk bagi kehidupan manusia secara menyeluruh.
3. Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Dasar Pengamalan Islam
Pokok ketiga menjelaskan dasar Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam.
Muhammadiyah menjadikan:
- Al-Qur’an, yaitu Kitab Allah yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW; dan
- Sunnah Rasul, yaitu penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang Nabi Muhammad SAW jelaskan dan contohkan.
MKCH juga menyebut penggunaan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam dalam memahami dan melaksanakan ajaran tersebut.
Karena itu, Muhammadiyah tidak memisahkan sumber ajaran Islam dengan penggunaan akal. Akal berfungsi dalam memahami dan mengembangkan pengamalan ajaran Islam dengan tetap memperhatikan jiwa ajaran Islam.
4. Bidang Pengamalan Ajaran Islam
Pokok keempat menjelaskan bidang-bidang tempat Muhammadiyah mengusahakan terlaksananya ajaran Islam.
Rumusan MKCH mencakup empat bidang utama:
A. Akidah
Muhammadiyah mengusahakan tegaknya akidah Islam yang murni dan bersih dari gejala kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat, sekaligus tetap memperhatikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.
B. Akhlak
Muhammadiyah mengusahakan tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.
Dengan demikian, akhlak menjadi bagian penting dari pengamalan Islam, bukan sekadar persoalan etika sosial yang berdiri sendiri.
C. Ibadah
Muhammadiyah mengusahakan pelaksanaan ibadah sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkannya dan menghindari tambahan atau perubahan yang tidak memiliki dasar dalam tuntunan Islam.
D. Muamalah Duniawiyah
Muhammadiyah mengusahakan terlaksananya muamalah duniawiyah, yaitu pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat berdasarkan ajaran agama.
Pada bidang ini, Muhammadiyah mengarahkan berbagai kegiatan kehidupan agar memiliki nilai ibadah kepada Allah SWT.
Keempat bidang tersebut menunjukkan bahwa MKCH memandang pengamalan Islam secara luas. Akidah, akhlak, ibadah, dan kehidupan sosial tidak berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, semuanya berada dalam satu orientasi kehidupan Islam.
Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam
MKCH menegaskan identitas Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam.
Identitas tersebut berarti Muhammadiyah menjadikan Islam sebagai dasar keyakinan, sumber nilai, dan orientasi perjuangan.
Karena itu, Muhammadiyah tidak memahami Islam hanya sebagai identitas formal. Muhammadiyah berusaha menerjemahkan ajaran Islam ke dalam kehidupan melalui dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, pemberdayaan, amal usaha, dan berbagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Portal resmi Muhammadiyah juga menempatkan MKCH sebagai salah satu bagian dari pemikiran ideologis yang membentuk karakter dan arah gerakan Persyarikatan.
Islam sebagai Risalah bagi Kehidupan
MKCH memandang Islam sebagai agama Allah yang membawa hidayah dan rahmat bagi manusia.
Karena itu, Islam tidak hanya berbicara tentang kehidupan akhirat. Islam juga memberikan orientasi bagi kehidupan manusia di dunia.
Pandangan tersebut menjelaskan mengapa Muhammadiyah mengembangkan berbagai bidang amal dan pelayanan. Kehidupan dunia menjadi ruang bagi manusia untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba dan khalifah Allah.
Dengan demikian, Muhammadiyah tidak memandang kehidupan material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi, sebagai dua wilayah yang saling bertentangan.
Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an dan Sunnah menempati posisi sentral dalam pengamalan Islam menurut MKCH.
Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kitab-Nya. Sementara itu, Sunnah Rasul memberikan penjelasan dan contoh pelaksanaan ajaran Al-Qur’an.
Pada saat yang sama, MKCH menyebut penggunaan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
Karena itu, memahami MKCH perlu menghindari dua pemahaman yang sama-sama tidak tepat: memisahkan akal dari ajaran Islam atau menggunakan akal tanpa memperhatikan sumber dan prinsip ajaran Islam.
Muhammadiyah justru mengembangkan hubungan antara wahyu dan akal dalam pengamalan Islam. Pemikiran resmi Muhammadiyah mengenai Islam Berkemajuan juga menjelaskan hubungan antara tajdid, ijtihad, akal, dan kontekstualisasi ajaran Islam dalam kehidupan.
Manusia sebagai Hamba Allah
MKCH menempatkan manusia sebagai hamba Allah.
Kedudukan tersebut memberikan dasar spiritual bagi kehidupan manusia. Manusia tidak menentukan arah hidup hanya berdasarkan kepentingan material, tetapi menjalankan kehidupan dalam hubungan dengan Allah dan berdasarkan petunjuk-Nya.
Karena itu, kehidupan manusia memiliki dimensi ibadah, tanggung jawab moral, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Manusia sebagai Khalifah Allah
Selain sebagai hamba, manusia juga menjalankan fungsi sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Konsep tersebut memberikan dimensi tanggung jawab kepada kehidupan manusia.
Manusia harus mengelola kehidupan dengan amanah. Oleh sebab itu, pengamalan Islam juga menyentuh kehidupan sosial dan kemasyarakatan.
Dalam konteks ini, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, pemeliharaan lingkungan, dan berbagai bentuk kemaslahatan dapat menjadi bagian dari tanggung jawab manusia ketika dijalankan sesuai dengan nilai dan ajaran Islam.
Dengan demikian, konsep manusia sebagai khalifah membantu menjelaskan mengapa Muhammadiyah tidak membatasi gerakannya pada ibadah individual.
Kehidupan Duniawi dan Ukhrawi
MKCH secara tegas menghubungkan kehidupan materiil dan spiritual, duniawi dan ukhrawi.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak menempatkan kehidupan dunia sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan akhirat.
Sebaliknya, kehidupan dunia menjadi tempat manusia menjalankan amanah, beramal, membangun kehidupan, dan mempersiapkan pertanggungjawaban di akhira
Karena itu, kemajuan material perlu berjalan bersama dengan pembinaan iman, akhlak, ilmu, dan tanggung jawab sosial.
Cita-Cita Masyarakat Utama
Salah satu orientasi utama MKCH ialah mewujudkan masyarakat utama, adil, makmur yang diridai Allah SWT.
Kemajuan material saja tidak cukup untuk menggambarkan masyarakat utama. Sebaliknya, MKCH menempatkan cita-cita tersebut dalam kerangka iman kepada Allah, pengamalan ajaran Islam, akhlak, ibadah, muamalah duniawiyah, serta pelaksanaan fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah.
Dengan demikian, kemajuan masyarakat harus berjalan bersama dengan nilai keadilan, kemakmuran, ketakwaan, dan kemaslahatan.
Keadilan dan Kemakmuran
MKCH menghubungkan cita-cita masyarakat dengan keadilan dan kemakmuran.
Keadilan menuntut kehidupan sosial yang menghormati hak dan martabat manusia serta menjauhkan kehidupan dari penindasan dan ketidakadilan.
Sementara itu, kemakmuran menunjuk pada kehidupan yang memungkinkan masyarakat memperoleh kesejahteraan dan mengembangkan potensi kemanusiaannya.
Dalam kerangka Muhammadiyah, cita-cita tersebut tidak berdiri terpisah dari ajaran Islam. Sebaliknya, keadilan dan kemakmuran menjadi bagian dari orientasi kehidupan yang memperoleh arah dari nilai-nilai Islam.
MKCH dan Muqaddimah Anggaran Dasar
MKCH memiliki hubungan erat dengan Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.
Keduanya merupakan bagian dari rangkaian pemikiran resmi Muhammadiyah. Muqaddimah Anggaran Dasar memberikan dasar filosofis bagi gerakan, sedangkan MKCH merumuskan pokok keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah.
Karena itu, pembaca sebaiknya tidak menempatkan MKCH sebagai dokumen yang berdiri sendiri.
Sebaliknya, kita dapat memahami MKCH secara lebih utuh dengan menghubungkannya dengan pemikiran resmi Muhammadiyah lainnya. Muhammadiyah sendiri mencantumkan Muqaddimah Anggaran Dasar, Kepribadian Muhammadiyah, MKCH, dan Khittah dalam rangkaian pemikiran resmi Persyarikatan.
MKCH dan Kepribadian Muhammadiyah
Kepribadian Muhammadiyah dan MKCH memiliki hubungan yang erat dalam sistem pemikiran Muhammadiyah.
MKCH membantu menjelaskan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah. Sementara itu, Kepribadian Muhammadiyah menjelaskan karakter yang harus tercermin dalam kehidupan dan gerak Muhammadiyah.
Karena itu, memahami keduanya secara bersamaan membantu warga Muhammadiyah melihat hubungan antara apa yang diyakini dan bagaimana Muhammadiyah menerapkan keyakinan tersebut dalam karakter gerakannya.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menerbitkan dokumen resmi yang menggabungkan Kepribadian Muhammadiyah dan MKCH sebagai bagian dari arsip pemikiran Persyarikatan.
MKCH dan Khittah Muhammadiyah
MKCH juga memiliki hubungan erat dengan Khittah Muhammadiyah.
Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. MKCH memberikan orientasi mengenai keyakinan dan cita-cita hidup, sedangkan Khittah memberikan garis perjuangan Muhammadiyah dalam konteks tertentu.
Karena itu, MKCH membantu menjawab pertanyaan mengenai orientasi dasar gerakan, sedangkan Khittah membantu memahami bagaimana Muhammadiyah menempatkan dan mengarahkan gerak perjuangannya.
Dalam sejarah pemikiran Muhammadiyah, MKCH dan Khittah juga muncul dalam rangkaian pembaruan gerakan pada periode retajdid.
MKCH dan Dakwah
MKCH memiliki hubungan langsung dengan dakwah Muhammadiyah.
Jika Muhammadiyah merupakan Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, maka Muhammadiyah perlu mewujudkan keyakinan yang dirumuskan dalam MKCH melalui kehidupan nyata.
Karena itu, dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan.
Dakwah juga dapat hadir melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, pengembangan ilmu, ekonomi, kemanusiaan, dan amal usaha Muhammadiyah.
Dengan demikian, dakwah menjadi salah satu jalan untuk menerjemahkan keyakinan dan cita-cita Muhammadiyah ke dalam kehidupan.
MKCH dan Tajdid
MKCH juga memiliki hubungan dengan semangat tajdid Muhammadiyah.
Muhammadiyah menempatkan tajdid sebagai bagian penting dari dinamika gerakan. Dalam konteks pemikiran Islam, tajdid berkaitan dengan usaha menghadirkan pemahaman dan pengamalan Islam yang mampu menjawab perkembangan kehidupan dengan tetap berpegang pada sumber dan prinsip ajaran Islam.
Muhammadiyah mengembangkan ijtihad dan tajdid sebagai bagian dari upaya memahami ajaran Islam dalam konteks kehidupan yang terus berubah.
Pemikiran resmi Muhammadiyah mengenai Islam Berkemajuan juga menghubungkan tajdid dan ijtihad dengan kontekstualisasi ajaran Islam serta penggunaan akal yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam, sejalan dengan prinsip yang dijelaskan dalam MKCH.
MKCH dan Islam Berkemajuan
Islam Berkemajuan merupakan salah satu perkembangan penting dalam pemikiran Muhammadiyah mengenai bagaimana nilai-nilai Islam hadir dalam kehidupan dan pembangunan peradaban.
Hubungan tersebut terlihat dalam orientasi MKCH yang menegaskan fungsi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah serta cita-cita mewujudkan masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridai Allah.
Karena itu, perspektif Muhammadiyah menilai kemajuan tidak hanya dari perkembangan material.
Kemajuan juga membutuhkan iman, ilmu, akhlak, amal, keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Muhammadiyah menjelaskan bahwa umat Islam perlu menerapkan ajaran Islam dalam amal nyata sepanjang kehidupan dari zaman ke zaman. Karena itu, nilai Islam tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi harus hadir dalam tindakan yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.
MKCH dan Amal Nyata
Salah satu cara memahami MKCH adalah melihat hubungan antara keyakinan dan amal.
Keyakinan memberikan arah. Ilmu membantu manusia memahami persoalan. Sementara itu, amal menerjemahkan nilai dan keyakinan ke dalam kehidupan.
Karena itu, pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi, dakwah, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah mencerminkan usaha mewujudkan nilai Islam dalam kehidupan nyata.
Pada titik ini, warga Muhammadiyah tidak cukup mempelajari MKCH sebagai materi hafalan.
Warga Muhammadiyah perlu memahami maknanya, menghubungkannya dengan pemikiran resmi Muhammadiyah lainnya, kemudian menerapkannya dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan Persyarikatan.
Fungsi MKCH bagi Warga Muhammadiyah
Berbagai unsur dalam lingkungan Muhammadiyah perlu mempelajari MKCH, antara lain:
- anggota Muhammadiyah;
- kader Muhammadiyah;
- pimpinan Persyarikatan;
- aktivis organisasi otonom;
- pengelola amal usaha Muhammadiyah;
- pendidik Muhammadiyah;
- mahasiswa dan pelajar Muhammadiyah;
- serta masyarakat yang ingin memahami Muhammadiyah dari sumber Persyarikatan.
Bagi warga Muhammadiyah, pemahaman terhadap MKCH membantu menjelaskan hubungan antara keyakinan Islam dengan aktivitas Persyarikatan.
Dengan demikian, warga Muhammadiyah dapat memahami mengapa Muhammadiyah bergerak dalam dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan berbagai bidang kehidupan lainnya.
Cara Membaca MKCH
MKCH sebaiknya tidak dibaca sebagai teks yang terpisah dari keseluruhan pemikiran Muhammadiyah.
Pembaca dapat menggunakan alur berikut:
Al-Qur’an dan Sunnah → Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah → MKCH → Kepribadian Muhammadiyah → Khittah Muhammadiyah → Tajdid → Islam Berkemajuan → Amal Nyata.
Namun, alur tersebut bukan berarti seluruh dokumen tersebut memiliki kedudukan atau fungsi yang sama.
Setiap dokumen memiliki konteks, sejarah, dan fungsi masing-masing. Karena itu, pembaca perlu memahami MKCH berdasarkan rumusan resminya terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan pemikiran resmi Muhammadiyah lainnya.
Pendekatan tersebut membantu mencegah pembacaan MKCH secara sepotong-sepotong.
Lima Pokok MKCH dalam Satu Kerangka
Jika diringkas tanpa menghilangkan struktur pokoknya, MKCH dapat dipahami melalui lima lapisan berikut:
- Identitas gerakan
Muhammadiyah merupakan Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. - Keyakinan keagamaan
Muhammadiyah meyakini Islam sebagai agama Allah yang menjadi hidayah dan rahmat bagi manusia. - Sumber pengamalan Islam
Muhammadiyah berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul serta menggunakan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam. - Bidang pengamalan
Muhammadiyah mengusahakan terlaksananya ajaran Islam dalam akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah. - Cita-cita kehidupan
Muhammadiyah bekerja menuju terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur, dan diridai Allah SWT serta menjalankan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Kerangka tersebut mengikuti substansi rumusan resmi MKCH yang dipublikasikan Muhammadiyah.
Kedudukan MKCH dalam Pemikiran Resmi Muhammadiyah
Muhammadiyah memiliki sejumlah pemikiran resmi yang dirumuskan melalui forum-forum Persyarikatan.
MKCH termasuk di dalamnya. Muhammadiyah mencatat MKCH sebagai rumusan tahun 1969, bersama berbagai pemikiran resmi lain seperti Muqaddimah Anggaran Dasar, Kepribadian Muhammadiyah, berbagai Khittah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Indonesia Berkemajuan, Negara Pancasila sebagai Dar al-‘Ahdi wa al-Syahadah, dan Risalah Islam Berkemajuan.
Karena itu, pembacaan MKCH akan lebih lengkap jika ditempatkan dalam keseluruhan perkembangan pemikiran Muhammadiyah.
Mengapa MKCH Penting Dipahami?
MKCH penting karena membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai Muhammadiyah:
Apa identitas Muhammadiyah?
Muhammadiyah merupakan Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
Apa dasar pengamalan Islam Muhammadiyah?
Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, dengan penggunaan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
Apa bidang pengamalan yang menjadi perhatian?
Akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah.
Apa cita-cita perjuangan Muhammadiyah?
Terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridai Allah SWT.
Bagaimana manusia ditempatkan dalam cita-cita tersebut?
Manusia menjalankan fungsi dan misi sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Dengan demikian, MKCH memberikan kerangka penting untuk memahami hubungan antara iman, ilmu, amal, kehidupan, dan gerakan Muhammadiyah.
Kesimpulan
Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah merupakan salah satu rumusan penting dalam pemikiran resmi Muhammadiyah.
MKCH menjelaskan identitas Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Selain itu, MKCH menegaskan keyakinan Muhammadiyah mengenai Islam sebagai agama Allah, Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar pengamalan Islam, serta penggunaan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
Selanjutnya, MKCH menjelaskan bidang pengamalan Islam yang meliputi akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah.
Pada akhirnya, seluruh orientasi tersebut mengarah kepada cita-cita terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridai Allah SWT, sekaligus pelaksanaan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Karena itu, MKCH tidak cukup dipahami sebagai teks ideologis yang dihafalkan. Warga Muhammadiyah perlu membaca, memahami, dan menghubungkannya dengan keseluruhan pemikiran resmi Muhammadiyah serta menerjemahkan nilai-nilainya dalam amal nyata.
Sumber Utama
- Pimpinan Pusat Muhammadiyah — Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah
Rumusan resmi MKCH dan catatan perubahan/perbaikannya. - Pimpinan Pusat Muhammadiyah — Ideologi Muhammadiyah
Portal resmi yang menempatkan MKCH dalam rangkaian pemikiran ideologis Muhammadiyah. - Khazanah Muhammadiyah — Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah
Dokumen resmi Persyarikatan yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. - Pimpinan Pusat Muhammadiyah — Relasi Muhammadiyah dengan Negara
Daftar pemikiran resmi Muhammadiyah dan kedudukan MKCH sebagai rumusan tahun 1969. - Pimpinan Pusat Muhammadiyah — Islam Berkemajuan
Penjelasan mengenai hubungan tajdid, ijtihad, akal, amal, dan pengembangan pemikiran Islam Muhammadiyah.
Prinsip editorial MuWawasan: Tanpa Sumber, Tanpa Klaim.
Untuk artikel ini, rumusan MKCH harus selalu diprioritaskan dari sumber resmi Persyarikatan, sedangkan uraian penjelas harus dibedakan secara jelas dari teks rumusan resmi.
