Jadwal SalatKHGT Muhammadiyah · Memuat lokasiSubuh —Terbit —Zuhur —Asar —Maghrib —Isya —

Krisis Gaza Menjelang Musim Dingin

Tenda-tenda bagi warga Palestina yang mengungsi di dalam sebuah sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, 10 September 2026. REUTERS/Ramadan Abed/Foto Arsip Hak lisensi untuk penggunaan foto
Dipublikasikan — / 14 Oktober 2026 | 09.10 WIB

MuWawasan, Gaza, Palestina — Krisis kemanusiaan Gaza menjelang musim dingin kembali mengancam jutaan warga Palestina. Setelah bertahun-tahun menghadapi konflik dan pengungsian, banyak keluarga masih tinggal di tenda atau tempat penampungan darurat yang tidak memadai untuk menghadapi hujan lebat, angin kencang, dan risiko banjir.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memperingatkan bahwa kebutuhan tempat tinggal di Gaza masih jauh dari terpenuhi. Dalam laporan tertanggal 9 Oktober 2026, IOM menyebut bahwa hampir seluruh penduduk Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal. IOM juga mencatat bahwa persediaan bantuan khusus musim dingin baru mencukupi sekitar 17 persen dari total kebutuhan warga Gaza.

Laporan tersebut juga menyebut sekitar 1,8 juta orang tinggal di lokasi pengungsian yang sebagian besar berada di kawasan rawan banjir. Banyak tenda dan tempat penampungan sementara mengalami kerusakan akibat penggunaan dalam waktu lama.

Krisis Gaza Menjelang Musim Dingin Mengancam Pengungsi

Kondisi tempat tinggal menjadi persoalan mendesak bagi keluarga yang kehilangan rumah akibat perang. Tenda yang awalnya berfungsi sebagai tempat berlindung sementara sering kali tidak lagi memberikan perlindungan memadai setelah berbulan-bulan menghadapi cuaca buruk dan menampung banyak pengungsi.

IOM memperingatkan bahwa hujan dan angin yang lebih intens dapat memperburuk keadaan. Sistem drainase yang rusak serta banyaknya bangunan yang hancur turut meningkatkan risiko banjir dan bahaya bagi warga yang tinggal di sekitar reruntuhan.

Keterbatasan bahan bangunan dan perlengkapan penampungan juga menghambat upaya perbaikan. IOM menyatakan bahwa pembatasan barang yang berpotensi memiliki penggunaan ganda masih menghambat pengiriman sebagian perlengkapan darurat dari luar Gaza.

Situasi ini membuat organisasi kemanusiaan harus mencari bahan alternatif di dalam Gaza, meskipun ketersediaannya semakin terbatas.

Gencatan Senjata Belum Mengakhiri Penderitaan

Kebutuhan kemanusiaan tersebut berlangsung ketika pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata masih menghadapi hambatan. Sejumlah laporan menyebut serangan masih menimbulkan korban meskipun para pihak telah mengumumkan kesepakatan penghentian konflik pada Oktober 2025.

Reuters melaporkan pada 12 Oktober 2026 bahwa serangan Israel di Gaza selatan menewaskan sedikitnya dua warga Palestina menurut petugas kesehatan setempat. Sehari sebelumnya, serangan di kawasan Mawasi, Khan Younis, juga menewaskan tiga orang, menurut laporan yang beredar. Militer Israel menyatakan serangannya menyasar militan, sedangkan Hamas membantah tuduhan bahwa kelompok tersebut berusaha melanjutkan serangan dan membangun kembali persenjataannya.

Perbedaan pernyataan para pihak tersebut memperlihatkan bahwa situasi keamanan masih rapuh. Pelaksanaan kesepakatan yang mencakup rekonstruksi Gaza, pelucutan senjata Hamas, dan penarikan pasukan Israel juga belum menunjukkan kemajuan menyeluruh.

Rekonstruksi Harus Menjangkau Kehidupan Warga

Pemulihan Gaza juga harus memulihkan kehidupan warga, memenuhi kebutuhan dasar, dan menyediakan tempat tinggal yang layak bagi para pengungsi. Kebutuhan tempat tinggal yang aman, layanan kesehatan, pendidikan, air bersih, sanitasi, serta pemulihan mata pencaharian juga harus menjadi bagian dari proses rekonstruksi.

Bagi keluarga yang masih tinggal di tenda, bantuan menjelang musim dingin merupakan kebutuhan langsung. Pemerintah dan lembaga kemanusiaan perlu mempercepat pembangunan rumah serta fasilitas umum agar warga Gaza dapat meninggalkan tempat penampungan darurat dan kembali menjalani kehidupan yang layak.

Upaya pemulihan juga harus melindungi warga dari bahaya reruntuhan bangunan saat mereka beraktivitas di kawasan terdampak. Bangunan yang tidak stabil, drainase yang rusak, dan kepadatan pengungsian dapat menambah risiko bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.

Dukungan Internasional Perlu Diterjemahkan Menjadi Bantuan Nyata

Peringatan IOM menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan warga Gaza dan bantuan yang tersedia. Karena itu, komunitas internasional perlu menyediakan pendanaan yang memadai, menjamin kelancaran akses bantuan kemanusiaan, dan mengizinkan masuknya perlengkapan penampungan yang dibutuhkan warga Gaza.

Organisasi kemanusiaan juga memerlukan kepastian akses agar bantuan dapat menjangkau keluarga yang tinggal di lokasi pengungsian dan wilayah terdampak kerusakan.

Bagi dunia Islam, perhatian terhadap Palestina tidak seharusnya berhenti pada pernyataan solidaritas. Dukungan kemanusiaan, advokasi diplomatik, dan upaya mendorong perlindungan warga sipil merupakan bagian penting dari respons terhadap krisis yang berkepanjangan.

Krisis kemanusiaan Gaza membutuhkan perhatian serius dari komunitas internasional. Warga memerlukan bantuan tempat tinggal yang layak, perlengkapan musim dingin, serta akses bantuan kemanusiaan yang aman dan berkelanjutan.

Menjelang musim dingin, kebutuhan paling mendesak bagi warga Gaza adalah tempat tinggal yang aman, perlindungan dari cuaca ekstrem, serta akses terhadap kebutuhan dasar. Pada saat yang sama, proses perdamaian dan rekonstruksi harus terus didorong agar masyarakat Palestina memiliki kesempatan membangun kembali kehidupan mereka secara bermartabat.

Sumber berita:

Penyuntingan dan penyusunan: Redaksi MuWawasan.


Ikuti Saluran WhatsApp MuWawasan Dapatkan informasi dan pengetahuan Muhammadiyah melalui saluran WhatsApp MuWawasan.
Ikuti Saluran

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *