Kuliah Subuh #005: Tafsir Surat Al-Humazah — Menjaga Lisan dan Sikap terhadap Harta

Dipublikasikan — / 11 Oktober 2026 | 05.30 WIB

Seri: Kuliah Subuh Tafsir Juz ‘Amma
Surat: Al-Humazah (الهمزة)
Nomor Surat: 104
Jumlah Ayat: 9 ayat
Bagian: Juz ‘Amma
Pemateri: Ustadz Abu Hanan


Pendahuluan

Perkataan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Melalui perkataan, kita dapat menyampaikan kebenaran, memberikan nasihat, menguatkan orang lain, dan membangun hubungan yang baik. Sebaliknya, perkataan yang mencela atau menghina dapat melukai perasaan, merendahkan martabat, bahkan memicu permusuhan.

Selain itu, manusia sering terdorong untuk mengumpulkan harta dan mengejar berbagai pencapaian duniawi. Harta dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan hidup dan memberikan manfaat kepada sesama. Namun, seseorang bisa menyombongkan diri ketika mengukur kemuliaan berdasarkan harta.

Surat Al-Humazah memberikan peringatan tentang dua persoalan tersebut. Surah ke-104 dalam Al-Qur’an ini terdiri atas sembilan ayat dan termasuk Juz ‘Amma. Ayat-ayat tersebut mengecam perilaku mencela dan mengumpat serta kesombongan akibat harta yang membuat manusia merasa akan hidup kekal.

Pesan Surat Al-Humazah tidak hanya berkaitan dengan percakapan sehari-hari. Kita dapat merendahkan orang lain melalui tulisan, komentar, unggahan, dan interaksi di media sosial. Sementara itu, cara kita memperlakukan sesama, menjaga amanah, dan menunaikan tanggung jawab sosial mencerminkan sikap kita terhadap harta.

Surat ini mengajak kita memperbaiki hubungan dengan sesama sekaligus menata kembali cara memandang kekayaan dan kehidupan dunia.

Sudahkah kita menjaga perkataan dan menggunakan harta sebagai sarana kebaikan, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Ayat 1: Peringatan bagi Orang yang Mencela dan Mengumpat

Allah berfirman:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

“Celakalah setiap pengumpat lagi pencela.”

Surat Al-Humazah ayat pertama mengecam perilaku mencela dan mengumpat. Ayat ini menegaskan bahwa kita tidak boleh menganggap kebiasaan merendahkan orang lain sebagai perkara sepele.

Perilaku mencela dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang dapat merendahkan sesama dengan mengejek kekurangan fisik, mempermalukan kondisi ekonomi, atau menyebarkan ucapan yang merusak kehormatan orang lain.

Perilaku serupa juga dapat terjadi melalui tulisan. Komentar yang menghina, unggahan yang mempermalukan orang lain, dan penyebaran informasi dengan maksud menjatuhkan martabat seseorang dapat menjadi bentuk tindakan yang perlu kita hindari.


Namun, kita perlu membedakan celaan yang merendahkan martabat dari kritik yang bertujuan memperbaiki keadaan secara bertanggung jawab. Kita perlu mengkritik tindakan, kebijakan, atau kekeliruan untuk memperbaiki keadaan. Kritik yang baik menjelaskan persoalan secara terang, menggunakan alasan yang kuat, dan mendorong perbaikan tanpa merendahkan pihak lain.

Karena itu, menjaga lisan tidak berarti kita harus menghindari setiap perbedaan pendapat. Menjaga lisan berarti berkata jujur, menghindari ucapan yang menyakiti, dan menghormati martabat setiap manusia.

Pesan ini juga mengingatkan kita agar memeriksa informasi dan mempertimbangkan dampaknya sebelum berkomentar atau membagikannya kepada orang lain. Sesuatu yang terasa lucu bagi pengirimnya belum tentu tidak menyakiti orang yang menjadi sasaran.

Bagi seorang Muslim, perkataan semestinya menjadi jalan untuk menghadirkan kebaikan, bukan sarana untuk merusak kehormatan sesama.

Ayat 2: Mengumpulkan dan Menghitung-Hitung Harta

Allah berfirman:

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗ

“Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”

Surat Al-Humazah ayat kedua menggambarkan orang yang terus mengumpulkan dan menghitung-hitung hartanya. Gambaran ini mengikuti peringatan tentang perilaku mencela dan mengumpat serta mengajak kita memahami kaitan antara akhlak dan sikap terhadap kekayaan.

Islam tidak mengajarkan bahwa setiap orang yang memiliki banyak harta pasti tercela. Kita dapat memanfaatkan harta untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mendukung pendidikan, mengembangkan usaha, membantu sesama, dan membiayai berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Persoalannya terletak pada sikap manusia terhadap harta tersebut.


Ketika seseorang terlalu berfokus pada kekayaan, ia sibuk menghitung hartanya hingga melupakan tanggung jawab yang menyertainya. Ia mungkin mengukur kehormatan manusia berdasarkan kekayaan, meremehkan orang yang hidup sederhana, atau mengutamakan keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan keadilan.

Keterikatan yang berlebihan terhadap harta juga dapat mendorong seseorang mengabaikan kewajiban dan kepedulian sosial. Padahal, kepemilikan harta membawa tanggung jawab untuk menggunakannya secara benar sesuai tuntunan agama.

Ayat ini mengajak kita melakukan evaluasi. Apakah harta yang kita kumpulkan semakin mendorong kita bersyukur dan berbuat baik? Ataukah harta justru membuat kita semakin sulit berbagi dan merasa lebih tinggi daripada orang lain?

Karena itu, kita perlu memperbaiki bukan hanya cara memperoleh kekayaan, tetapi juga cara memandang dan menggunakannya.

Ayat 3: Anggapan bahwa Harta Membuat Seseorang Kekal

Allah berfirman:

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهٗٓ أَخْلَدَهٗ

“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”

Ayat ketiga mengungkapkan anggapan keliru bahwa harta dapat membuat seseorang kekal. Kekayaan dapat memberikan kenyamanan, memperluas kesempatan, dan membantu manusia menghadapi berbagai kebutuhan. Namun, harta tidak dapat menjadikan kehidupan dunia berlangsung selamanya.

Manusia tetap menghadapi keterbatasan. Usia terus bertambah, keadaan berubah, dan harta tidak selalu bertahan seperti yang kita harapkan. Tidak ada kekayaan yang dapat menghapus kenyataan bahwa kehidupan dunia memiliki batas.

Ketika seseorang mengandalkan harta sebagai sumber kekuatan utama, ia bisa mengabaikan keterbatasan dirinya. Ia mungkin merasa tidak membutuhkan orang lain, mengabaikan nasihat, atau menganggap pencapaian materi sebagai ukuran utama keberhasilan hidup.

Padahal, jumlah harta tidak menentukan nilai kehidupan seseorang. Kejujuran, tanggung jawab, ketakwaan, kepedulian, dan amal saleh merupakan bagian penting dari kehidupan yang bermakna.

Ayat ini mengajak kita menempatkan kekayaan secara proporsional. Kita boleh bekerja keras, mengembangkan usaha, dan berusaha memperbaiki keadaan ekonomi. Namun, kita harus menyadari bahwa harta merupakan titipan yang penggunaannya menuntut tanggung jawab.

Jangan sampai kesibukan mengejar kekayaan membuat kita melupakan ibadah, keluarga, kesehatan, dan kewajiban terhadap sesama.

Harta dapat mendukung kehidupan, tetapi tidak boleh menjadi tujuan yang menguasai seluruh kehidupan.

Ayat 4: Peringatan tentang Neraka Hutamah

Allah berfirman:

كَلَّا لَيُنْۢبَذَنَّ فِى الْحُطَمَةِ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah.”

Ayat keempat membantah anggapan keliru bahwa harta dapat memberikan kekekalan. Allah memperingatkan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya akan menerima azab Hutamah.

Peringatan ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat menjadikan kekayaan sebagai perlindungan mutlak dari pertanggungjawaban di akhirat.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin memiliki jabatan, pengaruh, dan kemampuan ekonomi yang besar. Semua itu dapat mempermudah berbagai urusan duniawi, tetapi tidak menjadikan seseorang bebas dari kewajiban moral dan agama.

Karena itu, Surat Al-Humazah mengajak kita melihat kehidupan melampaui pencapaian yang tampak. Manusia perlu menilai hidupnya bukan hanya dari harta yang terkumpul, tetapi juga dari cara memperlakukan sesama dan memanfaatkan kekayaan.

Ayat ini sekaligus mengingatkan bahwa peringatan Al-Qur’an seharusnya mendorong kita memperbaiki diri, bukan sibuk menetapkan siapa yang pantas menerima hukuman.

Ayat 5: Memahami Besarnya Peringatan Hutamah

Allah berfirman:

وَمَآ أَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُ

“Dan tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah itu?”

Ayat kelima menegaskan besarnya ancaman melalui pertanyaan tentang Hutamah. Ayat ini menunjukkan bahwa akibat perbuatan manusia bukan perkara ringan.

Rangkaian ayat ini mengajak kita mengalihkan perhatian dari harta dan kedudukan menuju kehidupan akhirat yang tidak boleh kita abaikan.


Manusia sering mencurahkan banyak waktu untuk merencanakan masa depan, meningkatkan penghasilan, dan mempertahankan hartanya. Semua itu dapat menjadi bagian dari usaha yang baik. Namun, perencanaan duniawi perlu berjalan bersama persiapan spiritual dan tanggung jawab moral.

Kita juga perlu menyadari bahwa pengetahuan tentang ancaman akhirat bukan sekadar informasi. Peringatan tersebut semestinya membentuk sikap dan perilaku.

Jika kita memahami pentingnya pertanggungjawaban, kita akan lebih berhati-hati dalam berbicara, mencari penghasilan, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.

Dengan demikian, ayat ini mengajak kita merenungkan kembali prioritas kehidupan dan tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat sementara.

Ayat 6: Api Allah yang Menyala

Allah berfirman:

نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُ

“(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan.”

Ayat keenam menggambarkan Hutamah sebagai api Allah yang menyala. Pernyataan ini merupakan bagian dari peringatan Al-Qur’an mengenai hukuman akhirat.

Kita perlu memahami beratnya peringatan ini dengan merujuk pada perilaku manusia yang disebutkan di awal surah, tanpa menambahkan penjelasan di luar kandungan ayat.

Ayat ini mengingatkan bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi.
Perkataan yang merendahkan, kebiasaan mengumpat, dan kesombongan karena harta bukanlah perkara sepele.

Kehidupan beragama tidak cukup berhenti pada pengakuan dan pengetahuan. Keyakinan perlu mendorong perubahan perilaku yang nyata.

Karena itu, mari kita perbaiki akhlak, tunaikan tanggung jawab, dan manfaatkan setiap nikmat untuk kebaikan.

Ayat 7: Api yang Membakar hingga ke Hati

Allah berfirman:

الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِ

“Yang (membakar) sampai ke hati.”

Ayat ketujuh melanjutkan gambaran tentang Hutamah dengan menyebut api yang mencapai hati. Pernyataan ini menegaskan beratnya peringatan dalam surah ini.

Kita perlu membedakan keterangan Al-Qur’an dari penjelasan tambahan yang memerlukan rujukan tafsir tersendiri.

Bagi kehidupan sehari-hari, ayat ini mengajak kita memperhatikan keadaan batin yang memengaruhi tindakan. Perilaku mencela dan merendahkan orang lain tidak hanya berkaitan dengan kata-kata yang keluar, tetapi juga patut mendorong kita mengevaluasi sikap dan niat.

Sudahkah kita berbicara untuk memperbaiki keadaan, bukan untuk merendahkan orang lain? Apakah kita merasa senang saat melihat orang lain dipermalukan? Apakah kekayaan menumbuhkan rasa syukur atau justru memicu kesombongan?

Pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu kita melakukan muhasabah. Perbaikan akhlak memerlukan kesediaan untuk mengakui kekeliruan dan mengubah kebiasaan yang merugikan orang lain.

Pesan ayat ini mengajak kita memperbaiki bukan hanya perilaku yang tampak, tetapi juga sikap batin.

Ayat 8: Api yang Tertutup Rapat

Allah berfirman:

اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌ

“Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka.”

Ayat kedelapan melanjutkan gambaran tentang keadaan Hutamah. Ayat ini menggambarkan api yang menutup rapat orang-orang yang menerima azab sebagaimana dijelaskan dalam surah ini.

Peringatan tersebut mengingatkan manusia agar tidak memperlakukan kehidupan dunia seolah-olah tidak memiliki pertanggungjawaban. Manfaatkan kesempatan yang masih ada untuk memperbaiki diri.

Dalam hubungan dengan sesama, kita dapat memulainya dengan menghentikan kebiasaan mengejek, tidak menyebarkan penghinaan, serta meminta maaf ketika perkataan kita menyakiti orang lain.

Dalam urusan harta, kita dapat mengevaluasi cara memperoleh penghasilan, memenuhi kewajiban, dan menggunakan kekayaan untuk kebutuhan yang benar. Kita juga dapat belajar berbagi tanpa merendahkan penerima bantuan.

Kita dapat memperbaiki akhlak dan menunaikan tanggung jawab melalui kebiasaan kecil yang kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Surat Al-Humazah mengingatkan kita agar tidak menunda perbaikan diri dengan menganggap bahwa kesempatan akan selalu tersedia.

Ayat 9: Tiang-Tiang yang Memanjang

Allah berfirman:

فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ

“(Sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”

Ayat kesembilan menutup Surat Al-Humazah dengan gambaran tentang tiang-tiang yang memanjang. Ayat ini meneruskan peringatan tentang Hutamah dari ayat-ayat sebelumnya.

Penutup surah ini mempertegas bahwa peringatan terhadap perilaku mencela, mengumpat, dan terikat secara berlebihan pada harta memiliki bobot yang serius.

Kita tidak seharusnya membaca ayat-ayat tersebut hanya untuk membayangkan hukuman. Lebih penting lagi, kita perlu mengambil pelajaran agar tidak mengabaikan peringatan Allah.

Selama masih memiliki kesempatan hidup, manusia dapat memperbaiki perkataan, meluruskan niat, menunaikan kewajiban, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Jika pernah menyakiti orang lain melalui ucapan atau tulisan, kita dapat berusaha memperbaiki kesalahan tersebut. Jika selama ini terlalu berorientasi pada harta, kita dapat belajar menyeimbangkan usaha duniawi dengan ibadah dan kepedulian sosial.

Dengan demikian, akhir Surat Al-Humazah mengajak kita menanggapi peringatan Al-Qur’an melalui perubahan sikap dan tindakan yang nyata.

Mengapa Menjaga Lisan dan Sikap terhadap Harta Itu Penting?

Surat Al-Humazah menghubungkan perilaku mencela dengan sikap terhadap harta. Kedua persoalan ini perlu kita renungkan bersama karena keduanya berkaitan dengan cara manusia memandang dirinya dan orang lain.

1. Menjaga kehormatan sesama

Setiap orang perlu diperlakukan dengan hormat. Perbedaan keadaan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan kedudukan tidak menjadi alasan untuk merendahkan martabat orang lain.

Menjaga kehormatan sesama berarti berhati-hati dalam berbicara, menulis, menyampaikan kritik, dan membagikan informasi. Ketika menemukan kekeliruan, sampaikan koreksi secara bertanggung jawab tanpa menjadikan penghinaan sebagai tujuan.

2. Menggunakan media sosial secara bertanggung jawab

Media sosial memperluas jangkauan perkataan dan tulisan. Satu komentar dapat dibaca banyak orang dan terus tersebar meskipun pengirimnya telah melupakannya.

Karena itu, kita perlu memeriksa kebenaran informasi, mempertimbangkan dampak unggahan, dan menghindari komentar yang bertujuan mempermalukan orang lain.

Kebebasan menyampaikan pendapat perlu disertai tanggung jawab. Kritik yang berbasis fakta dan ditujukan untuk perbaikan berbeda dari serangan pribadi yang merendahkan seseorang.

3. Menempatkan harta sebagai amanah

Harta dapat menjadi sarana untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Namun, kekayaan perlu diperoleh dan digunakan dengan cara yang benar.

Sikap amanah mendorong kita memenuhi kewajiban, memperhatikan kebutuhan keluarga, menghormati hak orang lain, dan membantu sesama sesuai kemampuan.

Kita juga perlu menghindari kebiasaan mengukur nilai manusia berdasarkan kepemilikan materi. Kemuliaan seseorang tidak semestinya ditentukan hanya oleh banyaknya kekayaan yang dimiliki.

4. Mengendalikan kesombongan

Kekayaan, pengetahuan, jabatan, dan pencapaian dapat membuat seseorang merasa lebih unggul. Karena itu, kita perlu terus mengingat keterbatasan diri dan menyadari bahwa setiap nikmat membawa tanggung jawab.

Rendah hati bukan berarti mengabaikan kemampuan atau berhenti berusaha. Rendah hati berarti menggunakan kemampuan tanpa merendahkan orang lain serta bersedia menerima nasihat dan memperbaiki kekeliruan.

5. Menghubungkan peringatan dengan perubahan nyata

Memahami Surat Al-Humazah seharusnya mendorong perubahan perilaku. Kita dapat memulainya dengan mengurangi ucapan yang tidak bermanfaat, menghentikan kebiasaan mengejek, memperbaiki cara menyampaikan kritik, dan menggunakan harta secara bertanggung jawab.

Pelajaran surah ini menjadi bermakna ketika tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tercermin dalam cara kita menjalani kehidupan.

Pelajaran Utama Surat Al-Humazah

1. Menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak

Perkataan dapat membangun hubungan atau melukai orang lain. Karena itu, gunakan lisan dan tulisan untuk menyampaikan kebenaran, nasihat, dan kebaikan.

2. Kritik berbeda dari penghinaan

Kritik dapat membantu memperbaiki kekeliruan apabila disampaikan berdasarkan alasan yang jelas dan dengan cara yang bertanggung jawab. Jangan menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk merendahkan martabat seseorang.

3. Harta bukan ukuran mutlak kemuliaan manusia

Kekayaan dapat mendukung berbagai kebaikan, tetapi tidak menjadikan seseorang kekal atau bebas dari pertanggungjawaban. Nilai kehidupan perlu dibangun melalui iman, akhlak, dan amal saleh.

4. Kekayaan membawa tanggung jawab

Harta perlu diperoleh dan digunakan secara benar. Gunakan kemampuan ekonomi untuk memenuhi kewajiban, menjaga amanah, dan memberikan manfaat kepada sesama.

5. Kesombongan perlu dikendalikan

Jangan membiarkan harta, jabatan, atau pencapaian membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Setiap manusia memiliki keterbatasan dan perlu bersedia menerima nasihat.

6. Peringatan akhirat seharusnya mendorong perbaikan diri

Ayat-ayat tentang Hutamah mengingatkan kita agar tidak menyepelekan perilaku yang tercela. Tanggapi peringatan tersebut dengan muhasabah dan usaha memperbaiki tindakan.

Renungan Kuliah Subuh

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana kita memperlakukan orang lain melalui perkataan, dan bagaimana kita menggunakan harta yang kita miliki?

Pernahkah kita mengejek seseorang hanya karena penampilan, pekerjaan, atau keadaan ekonominya?

Pernahkah kita menulis komentar yang menyakiti orang lain, kemudian menganggapnya sekadar candaan?

Apakah kita menilai seseorang berdasarkan akhlak dan tindakannya, atau lebih sering berdasarkan kekayaan dan kedudukannya?

Apakah harta yang kita kumpulkan membuat kita semakin bersyukur, semakin peduli, dan semakin bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak kita melakukan introspeksi tanpa sibuk mencari kesalahan orang lain. Perbaikan akhlak sebaiknya dimulai dari kesediaan untuk memeriksa diri sendiri.

Jika perkataan kita menyakiti orang lain, perbaikilah dan mintalah maaf bila perlu. Kebiasaan merendahkan sesama perlu kita ganti dengan sikap saling menghargai. Apabila kita terlalu terikat pada harta, tata kembali prioritas dan tunaikan tanggung jawab dengan lebih baik.

Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai berubah. Langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat membantu membentuk kebiasaan yang lebih baik.

Jangan biarkan lisan merendahkan sesama dan jangan biarkan harta meninggikan diri di atas orang lain.

Penutup

Surat Al-Humazah memberikan peringatan tentang perilaku mencela dan mengumpat serta sikap berlebihan terhadap harta. Sembilan ayatnya mengingatkan manusia bahwa kekayaan tidak dapat menjamin kekekalan dan bahwa kehidupan tidak terlepas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Pesan surah ini mengajak kita menjaga lisan, menghormati martabat sesama, mengendalikan kesombongan, dan menggunakan harta secara bertanggung jawab.

Karena itu, mari memperbaiki perkataan dan tindakan, baik dalam kehidupan langsung maupun di ruang digital. Jadikan harta sebagai sarana memenuhi amanah dan menghadirkan manfaat, bukan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Semoga Allah membimbing kita untuk menjaga akhlak, menjauhkan diri dari perilaku mencela, dan menggunakan setiap nikmat yang diberikan-Nya untuk kebaikan.

Artikel Terkait

Sumber

Ikuti Saluran WhatsApp MuWawasan Dapatkan informasi dan pengetahuan Muhammadiyah melalui saluran WhatsApp MuWawasan.
Ikuti Saluran

Komentar

One response to “Kuliah Subuh #005: Tafsir Surat Al-Humazah — Menjaga Lisan dan Sikap terhadap Harta”

  1. […] Kuliah Subuh #005: Tafsir Surat Al-Humazah — Menjaga Lisan dan Sikap terhadap Harta […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *