MuWawasan, Gaza — Tiga tahun setelah serangan 7 Oktober 2023, Gaza masih menghadapi persoalan besar untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan. Upaya penghentian konflik telah menghasilkan sejumlah perkembangan, tetapi persoalan keamanan, penarikan pasukan, pelucutan senjata, bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi masih menjadi tantangan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 6 Oktober 2026 menandai tiga tahun sejak serangan 7 Oktober 2023. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan agar kekerasan tidak kembali terjadi dan agar gencatan senjata di Gaza dapat berubah menjadi perdamaian yang permanen.
PBB juga menyoroti penderitaan masyarakat Gaza yang mengalami kehilangan besar, perpindahan penduduk dan kehancuran infrastruktur selama konflik.
Gencatan Senjata Belum Menyelesaikan Persoalan
Reuters melaporkan bahwa rencana perdamaian yang mulai diterapkan pada 2025 telah membawa sejumlah kemajuan, termasuk pembebasan sandera dan tahanan serta peningkatan akses bantuan kemanusiaan.
Namun, sejumlah tujuan utama masih belum terselesaikan. Persoalan pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel, pembentukan mekanisme keamanan baru dan masa depan pemerintahan Gaza masih menjadi persoalan yang belum menemukan penyelesaian menyeluruh.
Situasi tersebut memperlambat proses perdamaian, jauh dari harapan masyarakat yang terdampak perang.
Rekonstruksi Menjadi Tantangan Besar
Kerusakan fisik di Gaza juga menjadi persoalan jangka panjang. Rumah, fasilitas kesehatan, sekolah dan infrastruktur publik membutuhkan pemulihan dalam skala besar.
Reuters melaporkan bahwa pemulihan dan rekonstruksi Gaza selama satu dekade membutuhkan dana puluhan miliar dolar. Sementara itu, dana yang diumumkan untuk tahap awal rekonstruksi masih jauh di bawah kebutuhan tersebut.
Rekonstruksi juga tidak hanya menyangkut pembangunan kembali bangunan. Pemulihan kehidupan sosial, pendidikan, kesehatan dan ekonomi masyarakat menjadi bagian yang sama pentingnya.
Pendidikan Mulai Bergerak Kembali
Di tengah kehancuran, sejumlah perkembangan menunjukkan bahwa masyarakat Gaza mulai berupaya memulihkan kehidupan mereka.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa para siswa Gaza mulai kembali mengikuti pembelajaran tatap muka setelah sekitar tiga tahun terganggu akibat perang. Perkembangan tersebut menjadi simbol penting bagi upaya mengembalikan kehidupan normal masyarakat.
Namun, kebutuhan pendidikan masih sangat besar karena konflik telah menyebabkan kehilangan tenaga pendidik, kerusakan sekolah dan terganggunya masa depan generasi muda.
Jalan Panjang Menuju Perdamaian
Tiga tahun setelah 7 Oktober 2023, persoalan Gaza menunjukkan bahwa penghentian pertempuran saja belum cukup untuk menciptakan perdamaian.
Masyarakat membutuhkan jaminan keamanan, bantuan kemanusiaan yang memadai, pemulihan infrastruktur, rekonstruksi, serta proses politik yang membuka ruang bagi masa depan Palestina.
Wawasan Terkait: Batas Kemanusiaan: 3 Tahun Genosida di Gaza
PBB menyerukan agar seluruh pihak menjalankan komitmen mereka, memperluas bantuan kemanusiaan dan bergerak menuju perdamaian yang menghormati hukum internasional.
Bagi masyarakat Gaza, tantangan terbesar setelah perang adalah membangun kembali kehidupan yang telah rusak. Karena itu, dunia perlu terus memperhatikan Gaza, bukan hanya ketika konflik meningkat, tetapi juga saat proses pemulihan dan rekonstruksi berlangsung.
Sumber: Reuters dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB); diolah dan disusun secara orisinal oleh Redaksi MuWawasan.


Tinggalkan Balasan