Gaza kembali mengingatkan dunia bahwa kemanusiaan tidak boleh berhenti pada kata-kata. Ketika penderitaan berlangsung begitu panjang, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya tentang apa yang terjadi di sana, tetapi juga tentang bagaimana kita meresponsnya sebagai manusia yang memiliki nurani.
Ustaz Bachtiar Nasir, melalui unggahannya di X, menyebut tiga tahun genosida di Gaza sebagai ujian nurani. Menurutnya, situasi tersebut menguji batas kemanusiaan sekaligus keberanian manusia untuk tidak diam ketika menyaksikan kezaliman.
Pesan tersebut mengajak kita melakukan muhasabah. Dalam tradisi Islam, kepedulian terhadap mereka yang tertindas bukan sekadar persoalan perasaan, tetapi berkaitan dengan tanggung jawab moral. Keimanan semestinya melahirkan kepedulian terhadap kehidupan, martabat, dan keselamatan sesama manusia.
Tidak Menjadi Penonton
Penderitaan yang berlangsung lama berisiko membuat manusia terbiasa. Berita tentang korban, kehancuran, kelaparan, dan kehilangan dapat berubah menjadi angka yang hanya lewat di layar.
Di sinilah nurani diuji.
Diam terhadap penderitaan bukanlah pilihan yang netral ketika seseorang sebenarnya memiliki ruang untuk menyatakan kepedulian. Setidaknya, kita dapat menjaga agar kezaliman tidak dinormalisasi, informasi yang benar tetap disuarakan, bantuan kemanusiaan terus didukung, dan perhatian terhadap korban tidak hilang dari kesadaran publik.
Muhasabah dan Al-Wahan
Ustaz Bachtiar Nasir juga mengingatkan tentang Al-Wahan, yaitu kecenderungan mencintai dunia dan takut menghadapi kematian.
Pesan ini dapat menjadi bahan muhasabah bagi umat. Kecintaan kepada kehidupan dunia tidak seharusnya membuat manusia kehilangan keberanian moral untuk membela nilai kemanusiaan.
Keberanian tidak selalu berarti melakukan tindakan besar. Ia dapat dimulai dari keberanian untuk peduli, mencari informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, membantu sesuai kemampuan, mendoakan mereka yang menjadi korban, serta menyuarakan penghentian kezaliman secara damai dan bermartabat.
Kemanusiaan sebagai Amanah
Tragedi Gaza pada akhirnya bukan hanya persoalan satu wilayah atau satu kelompok manusia. Ia menghadapkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah nilai kemanusiaan masih memiliki makna ketika penderitaan berlangsung begitu lama?
Bagi seorang Muslim, menjaga kehidupan dan membela mereka yang dizalimi merupakan bagian dari tanggung jawab moral. Karena itu, kepedulian terhadap Gaza dapat menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan sekaligus memperbaiki kualitas iman dan amal sosial kita.
Gaza adalah ujian nurani.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang menyaksikan penderitaan, tetapi perlahan kehilangan kepekaan terhadapnya.
Catatan editorial: Tulisan ini merupakan pengolahan editorial atas gagasan yang disampaikan Ustadz Bachtiar Nasir melalui unggahan akun X pribadinya, @bachtiarnasir.


Tinggalkan Balasan