Kuliah Subuh #001: Tafsir Surat Al-‘Adiyat — Manusia, Syukur, dan Kecintaan kepada Harta

Seri: Kuliah Subuh Tafsir Juz ‘Amma
Surat: Al-‘Adiyat (العاديات)
Nomor Surat: 100
Jumlah Ayat: 11 ayat
Bagian: Juz ‘Amma
Pemateri: Ustdaz Abu Hanan


Pendahuluan

Surat Al-‘Adiyat merupakan salah satu surat dalam Juz ‘Amma yang menggambarkan dengan kuat sifat manusia ketika berhadapan dengan nikmat, perjuangan, dan kehidupan dunia.

Surat ini menggambarkan kuda-kuda yang berlari dengan cepat dalam suatu perjuangan sejak ayat-ayat awal. Setelah rangkaian sumpah tersebut, Allah mengingatkan manusia bahwa ia cenderung tidak mensyukuri nikmat Tuhannya dan sangat mencintai harta.

Pesan surat ini tidak berhenti pada kritik terhadap sifat manusia. Pada bagian akhir, Allah mengingatkan bahwa Dia mengetahui seluruh keadaan manusia dan akan menyingkap apa yang tersembunyi di dalam hati pada hari kebangkitan.

Dengan demikian, Surat Al-‘Adiyat mengajak manusia bermuhasabah: apakah nikmat yang diterima mendorongnya untuk bersyukur atau justru semakin mengikat hatinya kepada dunia?

Ayat 1–5: Gambaran Perjuangan dan Kecepatan

Allah membuka surat ini dengan sumpah:

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا ۝ فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا ۝ فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا ۝ فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا ۝ فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا

Ayat-ayat tersebut menggambarkan gerakan yang cepat, kuat, dan penuh kesungguhan hingga mencapai sasaran.

Dalam pembahasan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah mengenai ayat ketiga, terdapat perhatian terhadap kata “subhan”/pagi (صُبْحًا) dalam konteks ayat tersebut. Gambaran ini menunjukkan gerak dan perjuangan yang berlangsung dengan penuh kesungguhan.

Gambaran tersebut mengajak manusia merenungkan bahwa kehidupan menuntut kesungguhan, tetapi kesungguhan itu harus diarahkan kepada tujuan yang benar.

Ayat 6: Manusia yang Tidak Bersyukur

Allah kemudian berfirman:

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

Manusia memiliki kecenderungan menjadi kanud, yaitu tidak mensyukuri nikmat Tuhannya.

Ini merupakan peringatan yang sangat mendasar. Manusia sering mengingat kekurangan, tetapi melupakan begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepadanya.

Syukur bukan hanya ucapan. Syukur juga tercermin dalam cara seseorang menggunakan nikmat yang Allah berikan.

Ilmu, kesehatan, waktu, harta, kedudukan, kemampuan, dan kesempatan semuanya merupakan amanah. Ketika manusia menggunakan nikmat untuk kebaikan, ia menunjukkan rasa syukurnya. Sebaliknya, ketika ia hanya menggunakan nikmat untuk kepentingan diri sendiri, ia dapat terjebak dalam sifat yang Allah peringatkan melalui ayat ini.

Ayat 7: Manusia Menjadi Saksi atas Dirinya

Allah melanjutkan:

وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ

Pada dasarnya, manusia mengetahui keadaan dirinya sendiri.

Ia mengetahui bagaimana ia memperoleh dan menggunakan hartanya. Ia mengetahui apakah ia benar-benar bersyukur atau hanya mengucapkan syukur dengan lisan. Ia juga mengetahui apakah aktivitas kehidupannya mendekatkannya kepada Allah atau justru menjauhkannya.

Karena itu, ayat ini mengandung dorongan kuat untuk melakukan muhasabah.

Ayat 8: Kecintaan yang Berlebihan kepada Harta

Allah berfirman:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Manusia dapat memiliki kecintaan yang sangat kuat terhadap al-khair, yang dalam konteks ayat ini berkaitan dengan harta.

Memiliki harta bukanlah persoalan pada dirinya sendiri. Persoalan muncul ketika kecintaan terhadap harta menjadi berlebihan hingga mengalahkan kewajiban kepada Allah, kepedulian kepada sesama, dan tanggung jawab moral.

Harta seharusnya menjadi sarana untuk menjalankan kehidupan dengan baik, bukan menjadi tujuan tertinggi kehidupan.

Karena itu, persoalan utama bukan sekadar jumlah harta, tetapi bagaimana manusia memperlakukan dan menggunakan harta tersebut.

Ayat 9–11: Kesadaran tentang Akhirat

Pada bagian akhir, Allah mengingatkan manusia:

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ ۝ وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ ۝ إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ

Allah akan membangkitkan manusia. Pada hari itu, Allah mengeluarkan apa yang ada di dalam kubur dan menyingkap apa yang tersembunyi dalam dada.

Ini menunjukkan bahwa ukuran pertanggungjawaban manusia tidak hanya berkaitan dengan tindakan yang tampak, tetapi juga dengan keadaan batin dan niatnya.

Allah mengetahui seluruh keadaan manusia.

Kesadaran tentang hari akhir seharusnya membuat manusia lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan, menggunakan harta, menjalankan amanah, dan memperlakukan orang lain.

Pesan Utama Surat Al-‘Adiyat

Dari keseluruhan surat, kita dapat merenungkan beberapa pesan penting:

1. Manusia perlu menjaga rasa syukur

Nikmat yang terus Allah berikan dapat membuat manusia lupa bahwa semua itu berasal dari-Nya.

2. Manusia harus mengarahkan kesungguhannya kepada kebaikan.

Gambaran gerakan yang kuat pada awal surat mengingatkan bahwa kehidupan membutuhkan kesungguhan dan perjuangan.

3. Harta adalah amanah

Kecintaan kepada harta tidak boleh berkembang menjadi keterikatan yang mengalahkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

4. Manusia perlu bermuhasabah sebelum menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Manusia perlu menilai dirinya sendiri sebelum Allah memperlihatkan seluruh amal dan keadaan batinnya.

5. Kehidupan dunia bukan tujuan akhir

Kesadaran terhadap kebangkitan dan pertanggungjawaban akhirat menjadi pengingat agar manusia tidak menjadikan kepentingan dunia sebagai ukuran tertinggi kehidupannya.

Renungan Kuliah Subuh

Surat Al-‘Adiyat mengajak setiap manusia mengajukan pertanyaan besar kepada dirinya sendiri:

Apakah nikmat yang kita terima membuat kita semakin bersyukur, atau justru semakin mencintai dunia?

Kesibukan, pekerjaan, perjuangan mencari nafkah, pendidikan, organisasi, dan berbagai aktivitas kehidupan merupakan bagian dari perjalanan manusia.

Namun, manusia perlu mengarahkan kesungguhan itu kepada tujuan yang lebih tinggi: pengabdian kepada Allah dan kemanfaatan bagi sesama.

Harta yang banyak tidak menjadi masalah selama manusia mampu menempatkannya sebagai amanah. Sebaliknya, harta yang sedikit pun dapat menjadi ujian apabila membuat manusia kehilangan rasa syukur.

Pada akhirnya, manusia tidak membawa harta yang ia kumpulkan, tetapi mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.

Penutup

Surat Al-‘Adiyat mengajak manusia keluar dari kelalaian.

Manusia bekerja dan berjuang, tetapi jangan sampai perjuangan itu membuatnya lupa kepada Pemberi nikmat. Manusia mencari harta, tetapi jangan sampai harta menguasai hatinya. Manusia menikmati kehidupan, tetapi jangan sampai kehidupan dunia membuatnya lupa kepada kehidupan akhirat.

Syukur, amanah, pengendalian diri, dan kesadaran terhadap pertanggungjawaban akhirat menjadi pelajaran penting dari surat ini.

Itulah yang membuat Surat Al-‘Adiyat tetap relevan sebagai bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari.


Sumber Persyarikatan

  1. QuranMu Digital — Muhammadiyah, untuk teks dan terjemah Al-Qur’an Surat Al-‘Adiyat ayat 1–11.
  2. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, untuk rujukan pembahasan terkait Surat Al-‘Adiyat, khususnya ayat 3.
  3. Suara Muhammadiyah, untuk pembahasan yang berkaitan dengan pesan Surat Al-‘Adiyat mengenai kecintaan manusia terhadap harta.

Komentar

2 responses to “Kuliah Subuh #001: Tafsir Surat Al-‘Adiyat — Manusia, Syukur, dan Kecintaan kepada Harta”

  1. […] Kuliah Subuh #001: Tafsir Surat Al-‘Adiyat — Manusia, Syukur, dan Kecintaan kepada Harta […]

  2. […] Kuliah Subuh #001: Tafsir Surat Al-‘Adiyat — Manusia, Syukur, dan Kecintaan kepada Harta […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *